Skip to main content

Featured

Mang Ijad

  “A, tahu tidak apa bedanya putus cinta sama patah hati?” “Gatau. Aku mah tahunya sama-sama sakit aja, begitu.” “Nya beda atuh!” “Emang apa bedanya?” “Putus cinta itu, dua orang yang memang akhirnya sepakat buat selesai. Misalnya aku punya pacar, terus aku atau dia udah nggak mau lanjut. Atau suami istri yang bercerai. Sakit sih, tapi kita sama-sama tahu alasannya. Sama-sama sadar kalau memang udah nggak bisa bersama lagi.” “Ohh… kalau patah hati?” “Kalau patah hati,. Beuh… aa tahu Mang Ijad? Yang istrinya meninggal beberapa tahun lalu?” “Tahu. Itu kan mamangnya teman aa.” “Nah, itu contoh patah hati. Mereka sama-sama nggak mau berpisah, tapi keadaan yang maksa. Sok lihat Mang Ijad ayeuna.” “Huss, jangan ngomong sembarangan.” “Tapi bener kan?” Aku mengangguk pelan. “Iya sih. Aa sering lihat dia duduk di teras sambil minum kopi. Kadang nyiram tanaman. Tapi tatapannya kosong.” “Nah itu a, berpisah karena keadaan kayaknya teh lebih menyakitkan gitu rasanya dibanding berp...

Percaya (Believe)

 Pagi itu, Jumat, 17 April 2026.

Dari kantor di Jakarta, aku berangkat menuju Purwakarta bersama Pak Mus, teman kerjaku sebagai driver kantor. Kami mendapat tugas menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana. Sebetulnya, aku sudah cukup sering pergi ke Purwakarta. Hampir setiap dua atau tiga bulan sekali, selalu ada saja pekerjaan yang mengharuskanku datang ke kota itu.

Tapi kali ini berbeda.

Ini pertama kalinya aku ditugaskan ke sana di hari Jumat. Biasanya kalau tidak Kamis, ya Selasa. Atau di hari-hari lainnya, yang pasti bukan Jumat.

Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul pikiran iseng di kepalaku.

"Apa sekalian pulang saja, ya?"

Rumahku berada di Kuningan, Jawa Barat. Kalau dihitung-hitung, Purwakarta sudah seperti setengah perjalanan menuju rumah. Lumayan, pikirku. Dapat tumpangan gratis separuh jalan. Syukur-syukur kalau Pak Mus mau sekalian diajak ke rumah, bisa gratis sampai tujuan.

Aku terkekeh-kekeh sendiri membayangkannya.

Sudah empat tahun aku merantau di Jakarta. Selama itu, aku tidak terlalu sering pulang. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena bapakku selalu punya kalimat andalan setiap kali aku bilang ingin pulang.

"Daripada pulang, mending uangnya ditabung. Sayang ongkos. Kalau rindu, sekarang kan bisa video call."

Kurang lebih begitu terus nasihatnya.

Aku paham maksud bapak. Baginya, uang perjalanan lebih baik disimpan daripada dihabiskan hanya untuk beberapa hari di rumah. Tapi perasaanku sering kali tidak sepakat.

Video call memang bisa memperlihatkan wajah bapak dan ibu. Tapi tidak bisa menghadirkan suasananya.

Tidak ada aroma kopi buatan ibu di pagi hari. Tidak ada suara televisi bapak yang terlalu keras dari ruang tengah. Tidak ada rasa tenang yang selalu muncul setiap kali aku melihat halaman rumah dari balik pintu depan.

Kadang, bertemu langsung selalu punya makna yang tidak bisa digantikan oleh layar ponsel.

Karena itu, aku sering berdebat kecil dengan bapak soal urusan pulang.

Tapi ya sudahlah.

Pikiran untuk pulang itu masih sebatas angan-angan pagi hari. Belum tentu jadi.

Di perjalanan menuju Purwakarta, aku melihat jalan tol arah Jakarta terlihat macet luar biasa. Antrean kendaraan mengular seperti ular besi yang kelelahan di bawah terik matahari.

Belakangan kami tahu penyebabnya.

Sebuah truk pengangkut pasir mengalami kecelakaan. Muatannya terlalu berat hingga ban tidak mampu lagi menanggung beban. Ban pecah, truk tergelincir, lalu pasir yang dibawanya tumpah berserakan di tengah jalan tol.

Aku memandang kemacetan itu cukup lama.

"Apa ini cuma kebetulan?" pikirku.

Entahlah.

Sore harinya, setelah pekerjaan selesai, aku dan Pak Mus bersiap kembali ke Jakarta.

Namun saat sampai di Gerbang Tol Cikopo, kemacetan itu masih ada.

Bahkan terasa lebih parah.

Aku tidak tahu apakah itu dampak kecelakaan tadi pagi atau memang karena jam pulang kerja. Yang jelas, kendaraan nyaris tidak bergerak.

Biasanya perjalanan menuju Jakarta memakan waktu sekitar dua jam. Itu pun karena mobil kantor yang kami gunakan adalah mobil muatan barang, jadi tidak bisa melaju sekencang mobil pribadi.

Tapi melihat kondisi saat itu, tiga jam rasanya masih terlalu optimis.

Mungkin lebih.

Aku menatap deretan lampu rem yang menyala merah di kejauhan.

Lalu sesuatu yang aneh terjadi.

Tiba-tiba saja aku ingin pulang.

Bukan sekadar ingin.

Aku benar-benar ingin pulang.

Perasaan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang diam-diam mengetuk pintu lalu masuk tanpa permisi.

Padahal biasanya aku selalu punya banyak pertimbangan. Kalau pulang hari Jumat, aku biasanya mengambil cuti di hari Senin. Kadang malah sejak Jumatnya sekalian. Supaya waktu di rumah terasa lebih panjang.

Tapi kali ini tidak.

Aku tidak memikirkan cuti.

Tidak memikirkan pekerjaan.

Tidak memikirkan apa-apa.

Yang ada di kepalaku cuma satu:

Pulang.

Mungkin juga karena momennya pas. Mungkin karena aku bisa pulang tanpa mengeluarkan ongkos. Atau mungkin karena perjalanan menuju Jakarta dan perjalanan menuju rumah terasa sama-sama jauh.

Aku tidak tahu.

Yang jelas, sore itu tekadku sudah bulat.

Aku mulai membujuk Pak Mus.

Berbagai alasan kulontarkan. Sebagian masuk akal, sebagian lagi asal bunyi.

Tapi Pak Mus tetap tidak bergeming.

"Aku wes ana urusan mengko bengi. Ora iso aku."

Aku tertawa kecil.

"Yowes, rapopo, Mase. Aku wes numpak bus wae."

Jawabku asal-asalan memakai bahasa Jawa yang belepotan.

Bahasa Jawaku tidak lebih baik dari nasi goreng yang kebanyakan kecap.

Pak Mus hanya ikut tertawa.

Padahal aku orang Kuningan. Sunda tulen. Hanya Cirebon dan Indramayu yang menurutku punya Bahasa mereka sendiri, bahasanya seperti Sunda ke jawa-jawa an. Aku tidak tahu. Yang pasti dan jelas Kuningan masih Sunda, aku juga.

Tak lama kemudian aku turun dari mobil kantor. Kami berjabat tangan dan berpamitan.

Di saat yang hampir bersamaan, sebuah bus Primajasa jurusan Jakarta-Kuningan sedang transit di Cikopo.

Tanpa banyak pikir panjang, aku langsung naik.

Pintu bus menutup perlahan.

Mesin kembali menyala.

Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, perasaan di dalam dadaku terasa tenang.

Aku sedang pulang.

--

Pukul sepuluh malam aku tiba di Terminal Cirendang.

Perjalanan belum benar-benar selesai. Untuk sampai ke rumah, aku masih harus menempuh sekitar tiga puluh menit lagi menggunakan bus atau elf jurusan Ciamis. Rumahku berada di Kuningan Selatan, dekat perbatasan Kabupaten Kuningan dan Majalengka, tepat di bawah kaki Gunung Ciremai.

Malam itu udara terasa dingin seperti biasa.

Sambil menunggu kendaraan yang lewat, aku menyempatkan membeli beberapa bungkus roti bakar untuk bapak dan ibu.

Aku tahu mereka mungkin sudah tidur. Tapi rasanya tidak enak pulang tiba-tiba tanpa membawa apa-apa. Setidaknya ada sedikit "uang damai" kalau nanti mereka ngomel karena aku tidak memberi kabar lebih dulu.

Tak lama kemudian, bus datang bersamaan dengan si aa penjual roti yang baru selesai membungkus pesananku.

Aku menerima roti itu, lalu bergegas naik.

Bus kembali berjalan membelah malam.

Dari balik jendela, aku memandangi Kuningan yang perlahan lewat di depan mata. Udara dinginnya masih sama seperti yang kuingat. Jalanan mulai lengang, meski sesekali suara knalpot racing memecah malam. Para remaja yang mungkin baru memodifikasi motornya, sedang sibuk menunjukkan keberanian mereka kepada dunia.

Aku hanya tersenyum melihatnya.

Beberapa saat kemudian, aku sampai di rumah.

Aku menelepon ibu dan bilang bahwa aku sudah berdiri di depan pintu.

Tak lama, pintu rumah terbuka.

Ibu muncul dengan wajah setengah bingung, setengah kaget, setengah ngantuk.

"Eh, eh, eh?"

Aku tertawa kecil, lalu memeluknya.

Begitu masuk, ternyata bapak juga sudah duduk di kursi ruang tengah. Entah karena mendengar suara telepon tadi atau memang belum tidur. Yang pasti aku langsung mencium tangannya.

Keduanya menatapku seperti sedang menunggu penjelasan.

Dan memang aku berutang penjelasan.

Aku menceritakan semuanya.

Tentang tugas ke Purwakarta.

Tentang kemacetan panjang.

Tentang keinginan aneh untuk pulang yang muncul begitu saja.

Aku bilang bahwa sebenarnya aku juga tidak tahu alasan pastinya. Rasanya seperti ada sesuatu yang terus mendorongku untuk pulang. Kebetulan aku sudah berada setengah perjalanan menuju rumah, akhir pekan juga sedang menunggu di depan mata.

Jadi ya sudah.

Aku pulang.

Setelah mendengarkan ceritaku, bapak dan ibu saling berpandangan sebentar.

Lalu bapak berkata singkat,

Oh, nya entos . . Nu penting salamet” (Oh, ya sudah. Yang penting selamat.)

Hanya itu.

Tidak ada ceramah soal ongkos.

Tidak ada omelan karena pulang mendadak.

Mungkin mereka memahami alasanku.

Mungkin juga mereka sudah terlalu mengantuk untuk memperdebatkannya.

Aku tidak tahu.

Yang jelas, malam itu aku duduk di rumah bersama mereka.

Dan untuk pertama kalinya sejak dorongan aneh itu muncul di Gerbang Tol Cikopo, ada sesuatu di dalam dadaku yang akhirnya tenang.

Seolah perjalanan ini memang seharusnya terjadi.

 --

Aku menikmati keberadaanku di rumah, bersantai, baca buku, rebahan, minum kopi buatan ibu, membantu bapak yang sedang merapikan area belakang rumah.

Dan menikmati hal-hal sederhana yang sering tidak sempat kurasakan ketika berada di Jakarta.

Di sela-sela itu, aku mengabari dua sahabatku di grup WhatsApp.

Danar dan Idan.

Grup itu hanya berisi kami bertiga.

Tempat berbagai kabar, cerita, candaan receh, dan segala hal yang tidak penting tapi selalu menyenangkan, ada di sana.

Danar bekerja di Solo, sedangkan Idan memilih tetap tinggal di kampung dan berjualan es kelapa muda. Dari kami bertiga, hanya dia yang tidak pernah benar-benar pergi ke mana-mana.

Mereka berdua sudah menikah.

Idan bahkan sudah memiliki seorang putri kecil, usianya sekitar delapan bulan.

Sedangkan Danar baru saja dikaruniai anak pertamanya.

Aku langsung teringat sesuatu.

Aku ingin menjenguknya.

Mungkin karena usia membuat kami semakin sibuk, atau mungkin karena hidup sudah membawa kami ke jalan masing-masing. Tapi aku merasa tidak ingin melewatkan momen itu.

Ternyata Idan juga belum sempat datang. Katanya, akhir-akhir ini dia sedang sibuk dengan urusannya, sampai belum menyempatkan untuk menjenguk putri cantik sahabatnya itu. Dan kebetulan hari ini dia senggang.

Akhirnya kami membuat janji dan berangkat bersama.

Danar menyambut kami dengan senyum yang sejak dulu tidak banyak berubah.

Rumahnya sederhana. Hangat. Penuh aroma bayi yang baru lahir.

Aku melihat Danar menggendong putrinya dengan hati-hati.

Dan untuk sesaat aku hanya diam.

Rasanya aneh.

Dulu kami lebih sering membicarakan bola, Idan yang berhasil memanjat pohon kelapa, dan mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk ukuran kantong kami.

Sekarang Danar sedang menggendong seorang manusia kecil yang memanggilnya bapak.

Idan juga begitu.

Mereka sudah menjadi bapak.

Dan aku tidak tahu kenapa, melihat itu membuatku ikut bahagia.

Kami mengobrol panjang sampai sore.

Sebelum pulang, aku dan Idan menyelipkan amplop kecil untuk putri Danar.

Bukan apa-apa.

Hanya tanda bahwa kami ikut bersyukur atas kehadirannya.

 --

Malam harinya aku bertemu lagi dengan Idan di rumahnya.

Aku membawa kopi nescafe americano kemasan dan sebungkus martabak yang kubeli bersama ibu di pasar selepas maghrib tadi.

Kami mengobrol tentang banyak hal.

Tentang pekerjaan.

Tentang keluarga.

Tentang hidup yang ternyata berjalan lebih cepat daripada yang kami kira.

Sampai akhirnya Idan bercerita sesuatu.

Beberapa minggu terakhir, ternyata Danar belum kembali merantau ke Solo. Ia memilih tetap berada di rumah sampai istrinya melahirkan.


Harita manehna carita ka urang,” kata Idan. (Waktu itu dia sempat cerita padaku)


Danar sebenarnya sudah beberapa kali berniat berangkat. Namun setiap kali melihat istrinya yang semakin dekat dengan hari persalinan, niat itu selalu urung.

Ia tidak tega meninggalkan istrinya sendirian.

Bagaimanapun, itu adalah anak pertama mereka.

Ia ingin berada di sana saat semuanya terjadi.

Sambil menyeruput kopi aku mengangguk pelan.


“Masalahnya,” lanjut Idan, “kerjaan Danar dibayar harian.”


Aku mulai paham ke mana arah cerita ini.

Semakin lama ia di rumah, semakin lama pula tidak ada pemasukan.

Di satu sisi ia ingin menemani istri dan anaknya.

Di sisi lain, ia tahu keluarganya juga membutuhkan nafkah. Dan ia juga sedang bingung untuk memberikan bekal beberapa hari ke depan yang cukup ketika ia sudah berangkat merantau nanti.

Menurut Idan, beberapa hari terakhir Danar cukup sering memikirkan hal itu.


Bukan mengeluh.

Hanya bingung.


Sebagai seorang bapak baru, ia ingin hadir untuk keluarganya. Tapi sebagai kepala keluarga, ia juga harus memastikan dapur tetap mengepul. Kadang seseorang harus meninggalkan rumah justru karena terlalu mencintai rumah itu.


Di tengah obrolan kami, ponsel kami tiba-tiba berbunyi.


Pesan dari grup WhatsApp.


Danar.


Aku membuka pesannya.


Ia mengucapkan terima kasih karena aku dan Idan sudah datang menjenguk.


Lalu di bagian akhir pesannya, ia menulis:


"Isukan urang mangkat deui ka Solo. Alhamdulillah, ayeuna urang rada tenang ninggalkeun pamajikan jeung budak. Doakeun lancar, nya."

(Besok aku berangkat lagi ke Solo. Alhamdulillah, sekarang aku agak tenang ninggalin mereka. Doain lancar, ya.)


Aku membaca pesan itu sekali lagi.


Lalu sekali lagi.


Entah kenapa kami langsung teringat amplop kecil yang tadi diselipkan untuk putrinya.


Amplop yang menurut kami biasa saja, sekadar meluapkan kebahagiaan.


Tapi mungkin, bagi seseorang yang sedang bingung memikirkan bekal untuk beberapa hari ke depan, nilainya tidak sesederhana itu.

Aku dan Idan terdiam mendengarnya.

Di luar rumah Idan, suara jangkrik bersahutan.

 --

Malam itu aku pulang dari rumah Idan dengan kepala yang penuh pertanyaan.

Mungkin aku memang terlalu jauh memikirkan semuanya.

Mungkin ini hanya kebetulan.

Atau mungkin memang ada doa-doa yang diam-diam sedang dijawab.

Aku tidak tahu.

 --

Esok paginya aku kembali berangkat ke Jakarta.

Sebelum berangkat, aku berpamitan kepada bapak dan ibu.

Bus berjalan meninggalkan Kuningan perlahan-lahan.

Gunung Ciremai berdiri jauh di belakang, semakin lama semakin kecil dari balik kaca jendela.

Aku memandangnya sampai tak terlihat lagi.

--

Sebenarnya, aku selalu percaya bahwa Tuhan punya rencana.

Aku percaya Dia memperhatikan.

Aku percaya tidak ada yang benar-benar luput dari pengawasan-Nya.

Tapi percaya ternyata tidak selalu membuat seseorang berhenti ragu.

Sebagai manusia, aku tetap sering bertanya-tanya.

Saat hidup terasa berjalan di tempat, saat doa belum menemukan jawabannya, atau saat keadaan tidak sesuai dengan yang kuharapkan, pertanyaan itu selalu datang lagi.

Apa Dia benar-benar sedang menyiapkan sesuatu?

Apa Dia benar-benar mendengar?

Hari ini, pertanyaan-pertanyaan itu belum sepenuhnya hilang. Tapi setidaknya aku merasa diberi sedikit jawaban.

Aku melihat seorang sahabat yang sedang bergulat dengan keadaan.

Aku melihat bagaimana serangkaian peristiwa yang tampak tidak berkaitan akhirnya bertemu di satu titik.


Kemacetan di Cikopo.


Keinginan aneh untuk pulang.


Idan yang tiba-tiba punya waktu luang.


Dan sebuah kunjungan sederhana yang mungkin datang di saat yang tepat.


Mungkin semuanya memang kebetulan.

Mungkin juga tidak.

Aku tidak tahu.


Tapi malam itu aku pulang dengan keyakinan yang sedikit lebih utuh daripada sebelumnya:

bahwa tidak semua hal harus kupahami lebih dulu untuk mempercayainya.

--

Selama ini aku sering cemas tentang hidup.

Tentang masa depan.

Tentang hal-hal yang belum terjadi.

Padahal mungkin ada banyak urusan yang sedang diatur tanpa sepengetahuanku.

Ada banyak pintu yang sedang dipersiapkan untuk dibuka pada waktu yang tepat.

Ada banyak jawaban yang sedang berjalan pelan menuju tempatnya.

Dan mungkin tugasku bukan memahami semuanya.

Mungkin tugasku hanya melangkah, bersabar, dan percaya.


"Wasta‘înû bish-shabri wash-shalâh."

Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. (Al-Baqarah : 45)


Bus terus melaju.

Dan Jakarta menunggu di ujung perjalanan.

Comments

  1. Semoga lain waktu, kamu bisa pulang kampung membawa pasangan. Agar ketika kumpul dengan idan dan danar membawa cerita baru bahwa temannya akan menyusul menikah seperti idan dan danar lebih dulu mempunyai keluarga kecil.

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts