Rencana
Pagi itu, Jumat, 17 April 2026.
Dari kantor di Jakarta, aku berangkat menuju Purwakarta
bersama Pak Mus, teman kerjaku sebagai driver kantor. Kami mendapat tugas
menyelesaikan beberapa pekerjaan di sana. Sebetulnya, aku sudah cukup sering
pergi ke Purwakarta. Hampir setiap dua atau tiga bulan sekali, selalu ada saja
pekerjaan yang mengharuskanku datang ke kota itu.
Tapi kali ini berbeda.
Ini pertama kalinya aku ditugaskan ke sana di hari Jumat. Biasanya kalau tidak Kamis, ya Selasa. Atau di hari-hari lainnya, yang pasti bukan Jumat.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba muncul pikiran iseng di
kepalaku.
"Apa sekalian pulang saja, ya?"
Rumahku berada di Kuningan, Jawa Barat. Kalau
dihitung-hitung, Purwakarta sudah seperti setengah perjalanan menuju rumah.
Lumayan, pikirku. Dapat tumpangan gratis separuh jalan. Syukur-syukur kalau Pak
Mus mau sekalian diajak ke rumah, bisa gratis sampai tujuan.
Aku terkekeh-kekeh sendiri membayangkannya.
Sudah empat tahun aku merantau di Jakarta. Selama itu, aku
tidak terlalu sering pulang. Bukan karena tidak ingin, melainkan karena bapakku
selalu punya kalimat andalan setiap kali aku bilang ingin pulang.
"Daripada pulang, mending uangnya ditabung. Sayang
ongkos. Kalau rindu, sekarang kan bisa video call."
Kurang lebih begitu terus nasihatnya.
Aku paham maksud bapak. Baginya, uang perjalanan lebih baik
disimpan daripada dihabiskan hanya untuk beberapa hari di rumah. Tapi
perasaanku sering kali tidak sepakat.
Video call memang bisa memperlihatkan wajah bapak dan ibu.
Tapi tidak bisa menghadirkan suasananya.
Tidak ada aroma kopi buatan ibu di pagi hari. Tidak ada
suara televisi bapak yang terlalu keras dari ruang tengah. Tidak ada rasa
tenang yang selalu muncul setiap kali aku melihat halaman rumah dari balik pintu
depan.
Kadang, bertemu langsung selalu punya makna yang tidak bisa
digantikan oleh layar ponsel.
Karena itu, aku sering berdebat kecil dengan bapak soal
urusan pulang.
Tapi ya sudahlah.
Pikiran untuk pulang itu masih sebatas angan-angan pagi
hari. Belum tentu jadi.
Di perjalanan menuju Purwakarta, aku melihat jalan tol arah Jakarta
terlihat macet luar biasa. Antrean kendaraan mengular seperti ular besi yang
kelelahan di bawah terik matahari.
Belakangan kami tahu penyebabnya.
Sebuah truk pengangkut pasir mengalami kecelakaan. Muatannya
terlalu berat hingga ban tidak mampu lagi menanggung beban. Ban pecah, truk
tergelincir, lalu pasir yang dibawanya tumpah berserakan di tengah jalan tol.
Aku memandang kemacetan itu cukup lama.
"Apa ini cuma kebetulan?" pikirku.
Entahlah.
Sore harinya, setelah pekerjaan selesai, aku dan Pak Mus
bersiap kembali ke Jakarta.
Namun saat sampai di Gerbang Tol Cikopo, kemacetan itu masih
ada.
Bahkan terasa lebih parah.
Aku tidak tahu apakah itu dampak kecelakaan tadi pagi atau
memang karena jam pulang kerja. Yang jelas, kendaraan nyaris tidak bergerak.
Biasanya perjalanan menuju Jakarta memakan waktu sekitar dua
jam. Itu pun karena mobil kantor yang kami gunakan adalah mobil muatan barang,
jadi tidak bisa melaju sekencang mobil pribadi.
Tapi melihat kondisi saat itu, tiga jam rasanya masih
terlalu optimis.
Mungkin lebih.
Aku menatap deretan lampu rem yang menyala merah di
kejauhan.
Lalu sesuatu yang aneh terjadi.
Tiba-tiba saja aku ingin pulang.
Bukan sekadar ingin.
Aku benar-benar ingin pulang.
Perasaan itu datang begitu saja, seperti seseorang yang
diam-diam mengetuk pintu lalu masuk tanpa permisi.
Padahal biasanya aku selalu punya banyak pertimbangan. Kalau
pulang hari Jumat, aku biasanya mengambil cuti di hari Senin. Kadang malah
sejak Jumatnya sekalian. Supaya waktu di rumah terasa lebih panjang.
Tapi kali ini tidak.
Aku tidak memikirkan cuti.
Tidak memikirkan pekerjaan.
Tidak memikirkan apa-apa.
Yang ada di kepalaku cuma satu:
Pulang.
Mungkin juga karena momennya pas. Mungkin karena aku bisa
pulang tanpa mengeluarkan ongkos. Atau mungkin karena perjalanan menuju Jakarta
dan perjalanan menuju rumah terasa sama-sama jauh.
Aku tidak tahu.
Yang jelas, sore itu tekadku sudah bulat.
Aku mulai membujuk Pak Mus.
Berbagai alasan kulontarkan. Sebagian masuk akal, sebagian
lagi asal bunyi.
Tapi Pak Mus tetap tidak bergeming.
"Aku wes ana urusan mengko bengi. Ora iso aku."
Aku tertawa kecil.
"Yowes, rapopo, Mase. Aku wes numpak bus wae."
Jawabku asal-asalan memakai bahasa Jawa yang belepotan.
Bahasa Jawaku tidak lebih baik dari nasi goreng yang
kebanyakan kecap.
Pak Mus hanya ikut tertawa.
Padahal aku orang Kuningan. Sunda tulen. Hanya Cirebon dan Indramayu yang menurutku
punya Bahasa mereka sendiri, bahasanya seperti Sunda ke jawa-jawa an. Aku tidak
tahu. Yang pasti dan jelas Kuningan masih Sunda, aku juga.
Tak lama kemudian aku turun dari mobil kantor. Kami berjabat
tangan dan berpamitan.
Di saat yang hampir bersamaan, sebuah bus Primajasa jurusan
Jakarta-Kuningan sedang transit di Cikopo.
Tanpa banyak pikir panjang, aku langsung naik.
Pintu bus menutup perlahan.
Mesin kembali menyala.
Dan untuk pertama kalinya sejak pagi, perasaan di dalam
dadaku terasa tenang.
Aku sedang pulang.
--
Pukul sepuluh malam aku tiba di Terminal Cirendang.
Perjalanan belum benar-benar selesai. Untuk sampai ke rumah,
aku masih harus menempuh sekitar tiga puluh menit lagi menggunakan bus atau elf
jurusan Ciamis. Rumahku berada di Kuningan Selatan, dekat perbatasan Kabupaten
Kuningan dan Majalengka, tepat di bawah kaki Gunung Ciremai.
Malam itu udara terasa dingin seperti biasa.
Sambil menunggu kendaraan yang lewat, aku menyempatkan
membeli beberapa bungkus roti bakar untuk bapak dan ibu.
Aku tahu mereka mungkin sudah tidur. Tapi rasanya tidak enak
pulang tiba-tiba tanpa membawa apa-apa. Setidaknya ada sedikit "uang
damai" kalau nanti mereka ngomel karena aku tidak memberi kabar lebih
dulu.
Tak lama kemudian, bus datang bersamaan dengan si aa penjual
roti yang baru selesai membungkus pesananku.
Aku menerima roti itu, lalu bergegas naik.
Bus kembali berjalan membelah malam.
Dari balik jendela, aku memandangi Kuningan yang perlahan
lewat di depan mata. Udara dinginnya masih sama seperti yang kuingat. Jalanan
mulai lengang, meski sesekali suara knalpot racing memecah malam. Para remaja yang
mungkin baru memodifikasi motornya, sedang sibuk menunjukkan keberanian mereka
kepada dunia.
Aku hanya tersenyum melihatnya.
Beberapa saat kemudian, aku sampai di rumah.
Aku menelepon ibu dan bilang bahwa aku sudah berdiri di
depan pintu.
Tak lama, pintu rumah terbuka.
Ibu muncul dengan wajah setengah bingung, setengah kaget, setengah ngantuk.
"Eh, eh, eh?"
Aku tertawa kecil, lalu memeluknya.
Begitu masuk, ternyata bapak juga sudah duduk di kursi ruang
tengah. Entah karena mendengar suara telepon tadi atau memang belum tidur. Yang
pasti aku langsung mencium tangannya.
Keduanya menatapku seperti sedang menunggu penjelasan.
Dan memang aku berutang penjelasan.
Aku menceritakan semuanya.
Tentang tugas ke Purwakarta.
Tentang kemacetan panjang.
Tentang keinginan aneh untuk pulang yang muncul begitu saja.
Aku bilang bahwa sebenarnya aku juga tidak tahu alasan
pastinya. Rasanya seperti ada sesuatu yang terus mendorongku untuk pulang.
Kebetulan aku sudah berada setengah perjalanan menuju rumah, akhir pekan juga
sedang menunggu di depan mata.
Jadi ya sudah.
Aku pulang.
Setelah mendengarkan ceritaku, bapak dan ibu saling
berpandangan sebentar.
Lalu bapak berkata singkat,
“Oh, nya entos . . Nu penting salamet” (Oh, ya sudah.
Yang penting selamat.)
Hanya itu.
Tidak ada ceramah soal ongkos.
Tidak ada omelan karena pulang mendadak.
Mungkin mereka memahami alasanku.
Mungkin juga mereka sudah terlalu mengantuk untuk
memperdebatkannya.
Aku tidak tahu.
Yang jelas, malam itu aku duduk di rumah bersama mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak dorongan aneh itu muncul di
Gerbang Tol Cikopo, ada sesuatu di dalam dadaku yang akhirnya tenang.
Seolah perjalanan ini memang seharusnya terjadi.
Aku
menikmati keberadaanku di rumah, bersantai, baca buku, rebahan, minum kopi
buatan ibu, membantu bapak yang sedang merapikan area belakang rumah.
Dan menikmati hal-hal sederhana yang sering tidak sempat
kurasakan ketika berada di Jakarta.
Di sela-sela itu, aku mengabari dua sahabatku di grup
WhatsApp.
Danar dan Idan.
Grup itu hanya berisi kami bertiga.
Tempat berbagai kabar, cerita, candaan receh, dan segala hal
yang tidak penting tapi selalu menyenangkan, ada di sana.
Danar bekerja di Solo, sedangkan Idan memilih tetap tinggal
di kampung dan berjualan es kelapa muda.
Mereka berdua sudah menikah.
Idan bahkan sudah memiliki seorang putri kecil, usianya sekitar delapan bulan.
Sedangkan Danar baru saja dikaruniai anak pertamanya.
Aku langsung teringat sesuatu.
Aku ingin menjenguknya.
Mungkin karena usia membuat kami semakin sibuk, atau mungkin
karena hidup sudah membawa kami ke jalan masing-masing. Tapi aku merasa tidak
ingin melewatkan momen itu.
Ternyata Idan juga belum sempat datang. Katanya, akhir-akhir ini dia sedang sibuk dengan urusannya, sampai belum menyempatkan untuk menjenguk putri cantik sahabatnya itu. Dan kebetulan hari ini dia sedang senggang.
Akhirnya kami membuat janji dan berangkat bersama.
Danar menyambut kami dengan senyum yang sejak dulu tidak
banyak berubah.
Rumahnya sederhana. Hangat. Penuh aroma bayi yang baru
lahir.
Aku melihat Danar menggendong putrinya dengan hati-hati.
Dan untuk sesaat aku hanya diam.
Rasanya aneh.
Dulu kami lebih sering membicarakan bola, Idan yang berhasil
memanjat pohon kelapa, dan mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk ukuran kantong
kami.
Sekarang Danar sedang menggendong seorang manusia kecil yang
memanggilnya bapak.
Idan juga begitu.
Mereka sudah menjadi bapak.
Dan aku tidak tahu kenapa, melihat itu membuatku ikut
bahagia.
Kami mengobrol panjang sampai sore.
Sebelum pulang, aku dan Idan menyelipkan amplop kecil untuk
putri Danar.
Bukan apa-apa.
Hanya tanda bahwa kami ikut bersyukur atas kehadirannya.
Malam harinya aku bertemu lagi dengan Idan di rumahnya.
Aku membawa kopi nescafe americano kemasan dan sebungkus
martabak yang kubeli bersama ibu di pasar selepas maghrib tadi.
Kami mengobrol tentang banyak hal.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang hidup yang ternyata berjalan lebih cepat daripada
yang kami kira.
Sampai akhirnya Idan bercerita sesuatu. Beberapa waktu lalu, mereka berdua (Danar dan Idan) sempat bertemu dan ngobrol, Danar menceritakan keadaannya pada Idan, dia memutuskan untuk tidak akan merantau dulu sampai istrinya melahirkan.
Ia memilih menemani istrinya yang kala itu sebentar lagi akan melahirkan. Dia berpikir kalau misalnya berangkat merantau, malah jadi tidak bisa menemani istrinya di momen istrinya sangat membutuhkan perannya.
Sambil mendengarkan Idan cerita, aku meminum kopiku.
Tidak lama setelah itu, tiba-tiba notifikasi grup WhatsApp berbunyi, Danar menghubungi untuk berterima kasih sudah berkenan datang menjenguk. Lalu dia bercerita tentang keengganannya merantau sampai minggu ini setelah anaknya lahir. Dia sangat risau kalau nanti istrinya perlu bantuannya, dia risau kalau anaknya yang cantik itu ingin digendong olehnya.
Namun konsekuensinya sederhana, tapi berat.
Dia tidak bekerja.
Dan karena pekerjaannya dibayar harian, berarti tidak ada pemasukan.
Dia sebenarnya masih ingin berada di rumah.
Masih ingin menemani istri dan putrinya.
Tapi ia juga tahu bahwa keluarganya membutuhkan nafkah.
Akhir-akhir ini ia risau karena belum memiliki cukup bekal untuk meninggalkan keluarganya beberapa hari ke depan. Sampai akhirnya, aku dan Idan datang menjenguk.
Dan Danar bilang, Besok pagi ia akan berangkat.
Aku dan Idan terdiam mendengarnya.
Di luar rumah Idan, suara jangkrik bersahutan.
Malam itu aku pulang dari rumah Idan dengan kepala yang
penuh pertanyaan.
Mungkin aku memang terlalu jauh memikirkan semuanya.
Mungkin ini hanya kebetulan.
Atau mungkin memang ada doa-doa yang diam-diam sedang
dijawab.
Aku tidak tahu.
Aku tiba-tiba teringat kemacetan di Cikopo.
Teringat keinginan aneh untuk pulang.
Teringat bagaimana aku dan Idan akhirnya bisa datang
menjenguk Danar di hari yang sama.
Yang kutahu, jika sore itu aku memilih kembali ke Jakarta,
mungkin aku tidak akan sempat melihat Danar menggendong putri pertamanya.
Mungkin aku tidak akan duduk bersama Idan malam itu.
Mungkin aku tidak akan berada di tempat yang tepat ketika
seorang sahabat membutuhkan sahabatnya.
Aku tidak tahu apakah semua itu memang direncanakan atau
hanya rangkaian peristiwa, yang kebetulan bertemu di satu titik.
Aku tidak tahu.
Dan entah kenapa, pikiran itu membuat langkahku terasa lebih
ringan.
Malam itu, aku merasa hidup sering kali bergerak dengan cara
yang tidak kita pahami.
Kadang sebuah jalan ditutup agar kita memilih jalan lain.
Kadang sebuah perjalanan diputar sedikit lebih jauh agar
kita sampai pada seseorang yang membutuhkan kita.
Dan kadang kita baru memahami alasan sebuah kepulangan
setelah kita benar-benar pulang.
Esok paginya aku kembali berangkat ke Jakarta.
Sebelum berangkat, aku berpamitan kepada bapak dan ibu.
Bus berjalan meninggalkan Kuningan perlahan-lahan.
Gunung Ciremai berdiri jauh di belakang, semakin lama
semakin kecil dari balik kaca jendela.
Aku memandangnya sampai tak terlihat lagi.
Lalu aku teringat satu hal.
Selama ini aku sering cemas tentang hidup.
Tentang masa depan.
Tentang hal-hal yang belum terjadi.
Padahal mungkin ada banyak urusan yang sedang diatur tanpa
sepengetahuanku.
Ada banyak pintu yang sedang dipersiapkan untuk dibuka pada
waktu yang tepat.
Ada banyak jawaban yang sedang berjalan pelan menuju
tempatnya.
Dan mungkin tugasku bukan memahami semuanya.
Mungkin tugasku hanya melangkah, bersabar, dan percaya.
"Wasta‘înû bish-shabri wash-shalâh."
Jadikanlah sabar dan salat sebagai penolongmu. (Al-Baqarah : 45)
Bus terus melaju.
Dan Jakarta menunggu di ujung perjalanan.
Comments
Post a Comment