Skip to main content

Featured

Langit Digbeth

  Digbeth, Birmingham — Sekitar Tahun 1913 Kabut tipis bercampur asap pabrik menggantung rendah di udara pagi. Jalanan di Digbeth terasa lembap, penuh noda oli yang menghitam di sela paving batu yang tak rata. Dari jauh terdengar suara peluit panjang—sirene pabrik yang menandai pergantian shift. Suaranya menggema di antara bangunan bata merah yang menjulang, fasadnya dipenuhi jelaga hitam yang sudah seperti bagian dari warna asli dinding. John Beckett , seorang yatim piatu yang ada tatapan hangat di matanya. Dia tinggal tidak jauh dari jalur kanal, di sebuah rumah bata kecil yang catnya mulai pudar oleh asap pabrik. Di sana pula tinggal Evelyn Harper, kekasihnya. Evelyn pernah bekerja di pabrik tekstil di Highgate , namun belakangan tubuhnya sering melemah. Batuknya tidak lagi sekadar batuk. Di malam hari, ketika Digbeth hanya diterangi cahaya lampu gas yang sayup, suara batuknya terdengar seperti sesuatu yang menahan hidupnya agar tidak jatuh. John sering duduk di samping r...

Halo Nana

Halo Nana, apa kabar? Tentunya kabar baik bukan? Dari balik jendela, aku selalu dibisikkan dengan kabar baikmu. Maaf, setelah lebih dari 12 purnama ini aku baru bisa membalas pesanmu. Karena perlu waktu yang bahkan lebih dari ini untuk mampu mencerna dengan baik pesanmu waktu itu, bahkan sampai sekarang aku masih belum pandai untuk menutupi rasaku sendiri. Aku tidak punya kalimat penutup untuk cerita kita waktu itu. Kabar yang terlalu cepat, untuk cerita yang begitu singkat, sampai aku sendiri dibuat tidak berdaya dengan kabar itu.

Nana, benar katamu. Kita manusia, dan manusia hanya diciptakan. Ketika Sang Maha Pencipta mengatur semuanya, apalah yang kita bisa? Tetapi, jika rasaku ini belum mampu untuk melupa, apalah yang aku bisa?

Nana, kali ini syariat melarangku untuk merindukanmu. Bahkan, menyapamu pun itu sebuah kesalahan.

Nana, aku pikir setelah aku melihatmu dengan manusia lain, itu akan lebih memudahkanku untuk melupakan, ternyata masih saja sulit. Pergi jauh pun rasanya itu belum cukup.

Nana, aku tahu kali ini kau sudah berbahagia. Aku pun sadar, pada saat ini orang yang tepat telah membuatmu senang. Dan aku turut senang. Aku senang ketika sesekali melihatmu, terlihat sangat bahagia ya, aku senang ketika mendengar kabarmu lebih baik dari waktu itu. Tuhan tahu apa yang kamu butuhkan, Nana.

Dan sekarang, kamu punya apa yang kamu butuhkan bukan? Kau berhak untuk lupa padaku dengan peranmu yang sekarang. Tetapi, apakah aku juga mampu untuk lupa padamu? Pada awalnya aku berpikir, Tuhan tidak adil ketika menjadikan kalian sebuah satu pasangan, sedangkan Dia hanya melemparkanku pada  kesendirian. Namun untuk sekarang, mungkin ini yang aku butuhkan, ini yang aku perlukan. Ya, kesendirian.

Setelah hari itu, hari-hariku adalah hari ketabahan. Aku menjadi lebih sering berdialog pada Tuhan, berbicara perihal pengampunan dan pintu maaf. Berharap permohonan maafku Tuhan sampaikan juga kepadamu, kata maafku untuk semuanya. Semuanya.

Nana, terimakasih sudah berkenan hadir di Bumiku. Bumi yang sederhana ini. Selamat kembali ke tempat yang seharusnya kamu berada, tempat yang seharusnya kamu di sana, tempat yang layak untuk kamu dan seseorang yang mampu memberikanmu segalanya.

Tidak ada sedikit pun penyesalan dari diriku karena telah melibatkanmu dalam perjalananku. Karena sedari awal, aku sudah sadar, aku tahu diri. Kita berbeda, alam semesta kita memang bersebrangan.

Pada saat itu, tugasku hanya membuatmu senang. Perihal bagaimana kau terhadapku, itu urusanmu.

Comments

Popular Posts