Skip to main content

Featured

Langit Digbeth

  Digbeth, Birmingham — Sekitar Tahun 1913 Kabut tipis bercampur asap pabrik menggantung rendah di udara pagi. Jalanan di Digbeth terasa lembap, penuh noda oli yang menghitam di sela paving batu yang tak rata. Dari jauh terdengar suara peluit panjang—sirene pabrik yang menandai pergantian shift. Suaranya menggema di antara bangunan bata merah yang menjulang, fasadnya dipenuhi jelaga hitam yang sudah seperti bagian dari warna asli dinding. John Beckett , seorang yatim piatu yang ada tatapan hangat di matanya. Dia tinggal tidak jauh dari jalur kanal, di sebuah rumah bata kecil yang catnya mulai pudar oleh asap pabrik. Di sana pula tinggal Evelyn Harper, kekasihnya. Evelyn pernah bekerja di pabrik tekstil di Highgate , namun belakangan tubuhnya sering melemah. Batuknya tidak lagi sekadar batuk. Di malam hari, ketika Digbeth hanya diterangi cahaya lampu gas yang sayup, suara batuknya terdengar seperti sesuatu yang menahan hidupnya agar tidak jatuh. John sering duduk di samping r...

Seorang Pribumi

Nenekku pernah bercerita,
tentang masa ketika gadis-gadis seusianya memikul senjata,
bukan cinta.
Tentang malam-malam tanpa lampu, hanya obor dan bau minyak tanah yang jadi parfum perang.
Tentang langkah-langkah kecil di tanah becek yang mereka sebut perjuangan.

Katanya, “Dulu, nak, tak ada listrik yang menyala,
yang terang hanya hati kami yang menyala-nyala.
Kami berjalan ratusan kilometer,
menyembunyikan senjata di balik rumput kering dan ranting,
sambil pura-pura menjadi penggembala.
Padahal yang kami gembalakan adalah kemerdekaan.”

Lalu matanya menerawang jauh,
seolah menatap malam di hutan yang masih gelap sampai sekarang.
Dia bilang,
mereka menukar rasa takut dengan tekad,
menukar nyawa dengan arti kata “merdeka”.
Dan ketika sampai di tujuan,
mereka disambut oleh tubuh-tubuh yang telah ditembak waktu —
yang kehilangan kaki, tapi tidak kehilangan tanah air.

“Capek nenek hilang waktu lihat mereka,” katanya.
“Jiwa nenek terbakar, rasanya ingin juga ikut mati.”
Tapi Tuhan belum memanggil,
jadi nenek hanya mengurus senjata,
menyeka darah,
dan menatap langit sambil berdoa semoga besok masih hidup.

Cerita itu tak sempat selesai.
Tuhan memanggilnya sebelum akhir bab.
Tapi sebelum pergi, dia sempat titip pesan,
kalimat yang sampai sekarang menggema di kepalaku:

“Kami ini pion di atas papan catur.
Kami yang membuka jalan bagi raja,
yang menghancurkan benteng,
yang menukar hidup dengan tanah yang kalian injak hari ini.
Tapi raja itu bukan presiden, bukan penguasa.
Raja itu kalian.
Kalianlah penerus kami —
pemegang kemerdekaan yang dulu kami titiskan dengan darah.”

Dia bilang, perjuangan kami dulu adalah berjalan di hutan,
tapi perjuangan kalian sekarang adalah berjalan di kota,
di jalan yang lebih licin, lebih banyak tipu muslihatnya.
“Jangan sampai tanah surga ini dijual kembali,” katanya.
“Kalau itu terjadi, sia-sialah darah kami.
Kami tak lebih dari arwah yang salah alamat.”

Nenek pergi dengan kaki penuh luka,
bukan karena kalah,
tapi karena sudah selesai berperang.
Dia tidak menuntut penghargaan,
tidak ingin dikenang,
hanya ingin tanah ini tetap disebut Indonesia,
bukan cabang dari negeri yang lebih kuat.

Dia menangis waktu terakhir kali menatap sawah,
bukan karena lelah,
tapi karena bahagia telah membawa rajanya —
kami — sampai ke gerbang kebebasan.
“Jaga surga ini,” katanya.
“Karena kami tidak punya yang lain.”

Dan setiap kali aku menatap bendera yang berkibar malas di tiang sekolah,
aku selalu berpikir:
apa jadinya kalau nenek melihat negeri ini sekarang?
Mungkin dia akan marah,
mungkin juga menangis.

Maafkan kami, nek.
Surga yang dulu kau bawa di punggung,
kini mulai retak di tangan kami sendiri.

Comments

Popular Posts