Skip to main content

Featured

Langit Digbeth

  Digbeth, Birmingham — Sekitar Tahun 1913 Kabut tipis bercampur asap pabrik menggantung rendah di udara pagi. Jalanan di Digbeth terasa lembap, penuh noda oli yang menghitam di sela paving batu yang tak rata. Dari jauh terdengar suara peluit panjang—sirene pabrik yang menandai pergantian shift. Suaranya menggema di antara bangunan bata merah yang menjulang, fasadnya dipenuhi jelaga hitam yang sudah seperti bagian dari warna asli dinding. John Beckett , seorang yatim piatu yang ada tatapan hangat di matanya. Dia tinggal tidak jauh dari jalur kanal, di sebuah rumah bata kecil yang catnya mulai pudar oleh asap pabrik. Di sana pula tinggal Evelyn Harper, kekasihnya. Evelyn pernah bekerja di pabrik tekstil di Highgate , namun belakangan tubuhnya sering melemah. Batuknya tidak lagi sekadar batuk. Di malam hari, ketika Digbeth hanya diterangi cahaya lampu gas yang sayup, suara batuknya terdengar seperti sesuatu yang menahan hidupnya agar tidak jatuh. John sering duduk di samping r...

Motor listrik driver online

Selasa, 04 Februari 2025

Pagi yang Terlambat Diciptakan

Pagi itu, sekitar pukul tujuh, awan datang berarak seperti ada yang sengaja memanggilnya dari balik langit.
Aku bersiap pergi bekerja—menunaikan kewajiban sebagai karyawan, juga sebagai manusia yang masih butuh makan, masih tunduk pada isi kepala yang rakus akan keinginan-keinginan.
Kewajiban itu, lama-lama, tak lagi terasa mulia. Ia berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan selalu lebih buas dari niat baik.

 

"Bekerja adalah salah satu cara untuk menunjukan bahwa kita bukanlah ciptaan Tuhan yang gagal"

 

Aku naik Transjakarta—angkutan murah yang jadi penebus dosa para pekerja kelas menengah ke bawah seperti aku.
Setiap pagi kami menebus waktu dengan ongkos belasan ribu, menukar kesabaran dengan bau keringat dan suara klakson yang seperti anjing-anjing lapar.
Belum kerja saja, kepala sudah pusing. Tapi ya begitulah: kesal selalu kalah oleh kebutuhan.

Sampai di halte, aku menunggu. Lima belas menit, dua puluh, tiga puluh—
dan kendaraan yang kutunggu tak juga datang.
Langit semakin muram, hatiku juga.
Aku ingin marah, ingin membanting sesuatu, memaki siapa saja yang berseragam.
Tapi di kota ini, marah hanya membuatmu makin lapar.
Lalu petugas itu bersuara:
“Sudah cukup, jangan dipaksakan. Tunggu bus berikutnya.”
Berikutnya? Setelah tiga puluh menit berdiri di atas lantai semen yang dingin?
Rasanya sabarku seperti kaca retak—masih utuh, tapi sebentar lagi pecah. Rupanya, di ujung jalan sana sedang ada pembangunan jembatan untuk kebutuhan MRT, sehingga menghambat para pengguna jalan.

 

Pembangunan mulu, kapan kelarnya?

 

Aku menyerah. Kuambil ponsel dan memesan ojek online.
Tapi layar itu hanya memantulkan wajahku yang mulai kehilangan akal.
Tak ada satu pun driver yang menerima.
Seolah-olah hari ini aku diciptakan cuma untuk menunggu.

Akhirnya, sebuah notifikasi muncul.
“Baik mas, mohon ditunggu.”
Lalu datanglah seorang bapak—umur mungkin sekitar lima puluh—dengan motor listrik sewaan yang suaranya nyaris seperti desahan kelelahan.
“Maaf ya, mas, sudah nunggu.”
Senyumnya kecil, tapi hangatnya seperti secangkir kopi yang tak tumpah.
Dan entah kenapa, saat itu emosiku seperti anak kecil yang tiba-tiba diselimuti ibunya.

Mungkin senyummu tak mengubah dunia. Tapi cukup untuk mengubah satu orang. Dan itu sudah cukup.

Beberapa ratus meter melaju, bapak itu bilang baterainya hampir habis.
“Sebentar ya, mas. Ganti dulu di minimarket.”
Aku ingin kesal, tapi lelahku sudah jadi abu.
Ternyata hanya butuh beberapa menit.
“Sudah, mas. Yuk, lanjut.”
Ia tersenyum lagi. Dan kali ini aku percaya, senyum bisa jadi bentuk ibadah yang paling sederhana.

Jika emosi mengalahkan logika, buktinya cuma: hidup jadi lebih sempit.

Di perjalanan, bapak itu bercerita. Tentang pesanan palsu, pelanggan yang marah-marah, potongan aplikasi yang makin gila.
Baru tadi pagi, katanya, dia kena orderan fiktif.
Dan aku tertegun: bagaimana bisa seseorang yang ditipu pagi-pagi masih punya senyum yang utuh?
Lalu aku tanya:
“Bapak kok bisa setenang itu?”
Dia tertawa kecil.
“Terima aja, mas. Segala sesuatu akan mudah dilewati kalau diterima duluan. Emosi cuma buang energi. Coba tarik napas, hempaskan, terus senyum. Dunia nggak bakal berubah, tapi hatimu iya.”

Sampai di depan kantor, aku terlambat.
Jarum jam menatapku sinis.
Biasanya aku panik. Tapi pagi itu, entah kenapa, aku cuma diam. Tarik napas. Hempaskan. Tersenyum.

Tarik napas...
Hempaskan...
Tersenyum...

Kadang Tuhan cuma ingin kita belajar menerima, sebelum Ia mengajarkan cara melawan.

Comments

Popular Posts