Skip to main content

Featured

Langit Digbeth

  Digbeth, Birmingham — Sekitar Tahun 1913 Kabut tipis bercampur asap pabrik menggantung rendah di udara pagi. Jalanan di Digbeth terasa lembap, penuh noda oli yang menghitam di sela paving batu yang tak rata. Dari jauh terdengar suara peluit panjang—sirene pabrik yang menandai pergantian shift. Suaranya menggema di antara bangunan bata merah yang menjulang, fasadnya dipenuhi jelaga hitam yang sudah seperti bagian dari warna asli dinding. John Beckett , seorang yatim piatu yang ada tatapan hangat di matanya. Dia tinggal tidak jauh dari jalur kanal, di sebuah rumah bata kecil yang catnya mulai pudar oleh asap pabrik. Di sana pula tinggal Evelyn Harper, kekasihnya. Evelyn pernah bekerja di pabrik tekstil di Highgate , namun belakangan tubuhnya sering melemah. Batuknya tidak lagi sekadar batuk. Di malam hari, ketika Digbeth hanya diterangi cahaya lampu gas yang sayup, suara batuknya terdengar seperti sesuatu yang menahan hidupnya agar tidak jatuh. John sering duduk di samping r...

Abu-abu

Kehidupan, katanya, adalah teka-teki yang tidak bisa diselesaikan beramai-ramai.
Karena hidup itu cuma bisa diselami sendirian,
di kepala yang berisik, di dada yang penuh pertanyaan.

Kadang orang pikir hidup itu soal hasil, padahal dia cuma tentang keberanian menanggung akibat.
Waktu tidak pernah ramah — dia tidak menunggu siapa pun,
tidak menunduk hanya karena kita sedang jatuh.
Dia terus berputar seperti jarum jam yang tidak kenal belas kasihan.
Kalau kita berhenti sejenak, dia pergi tanpa pamit.

Dan hari ini, gua ada di titik di mana semuanya terasa abu-abu.
Nggak hitam, nggak putih.
Cuma samar — seperti langit yang lupa memilih cuaca.
Apa pun yang gua lakukan, selalu aja salah.
Bahkan hal baik pun terasa kayak kesalahan yang belum sempat dihukum.

Gua cuma pengin bikin orang senang. Itu aja.
Tapi dunia kayaknya nggak punya ruang untuk niat sebaik itu.
Gua dianggap aneh, nggak jelas, abu-abu.
Padahal mungkin gua cuma lagi nyari arti di tengah yang kabur.

Gua nulis kayak begini bukan buat ngajarin siapa-siapa.
Gua cuma numpahin isi kepala sebelum dia meledak.
Nulis itu satu-satunya hal yang bikin gua ngerasa hidup —
selain cinta, yang sekarang bahkan udah nggak tahu kabarnya.
Gua nggak pinter nulis, apalagi sastra.
Gua cuma jujur. Dan itu, kadang, udah cukup bikin orang risih.

Kalau lo ngerasa hidup lo udah jelas, berhenti baca di sini.
Tulisan ini bukan buat lo.
Ini buat orang-orang yang masih setengah sadar di dunia yang setengah waras.
Yang masih punya harapan di antara puing-puing kenyataan.

Semua orang mau kaya,
nggak ada yang mau jadi miskin — kecuali Nabi kita, yang sempurna karena tidak butuh dunia.
Tapi kita ini manusia biasa, lapar pada segalanya.
Uang udah kayak Tuhan kecil,
dipuja, dicari, ditakuti.
Dengan uang, orang bisa ngomong sesuka hati,
dengan uang, orang bisa berlagak suci.

Lalu gua di mana?
Di tengah, di antara debu-debu gemerlap dunia.
Masih bingung, masih takut,
tapi juga masih pengen hidup.

Jadi kalau lo ngerasa hidup lo belum beres,
gua juga.
Kalau lo lagi ngerasa dunia nggak adil,
gua juga.
Kalau lo ngerasa udah capek tapi nggak bisa berhenti,
gua juga.

Jalan ini emang rumit, tapi jangan ditambahin simpul sendiri.
Jadi aja diri lo.
Nggak usah muluk-muluk mau dimengerti.
Yang penting lo selesai sama apa yang lo mulai.
Kita bakal ketemu lagi nanti —
di dunia yang mungkin udah nggak abu-abu lagi.

Comments

Popular Posts