Langit Digbeth
Digbeth, Birmingham — Sekitar Tahun 1913
Kabut tipis bercampur asap pabrik menggantung rendah di udara pagi. Jalanan di Digbeth terasa lembap, penuh noda oli yang menghitam di sela paving batu yang tak rata. Dari jauh terdengar suara peluit panjang—sirene pabrik yang menandai pergantian shift. Suaranya menggema di antara bangunan bata merah yang menjulang, fasadnya dipenuhi jelaga hitam yang sudah seperti bagian dari warna asli dinding.
John Beckett, seorang yatim piatu yang ada tatapan hangat di
matanya. Dia tinggal tidak jauh dari jalur kanal, di sebuah rumah bata kecil
yang catnya mulai pudar oleh asap pabrik. Di sana pula tinggal Evelyn Harper,
kekasihnya.
Evelyn pernah bekerja di pabrik tekstil di Highgate, namun
belakangan tubuhnya sering melemah. Batuknya tidak lagi sekadar batuk. Di malam
hari, ketika Digbeth hanya diterangi cahaya lampu gas yang sayup, suara
batuknya terdengar seperti sesuatu yang menahan hidupnya agar tidak jatuh.
John sering duduk di samping ranjangnya, dengan rokok yang
tidak ia nyalakan. Ia hanya memegangnya—seperti ritual untuk menenangkan diri.
“Aku tidak suka melihatmu begini,” ucap John pelan.
Suaranya serak, tidak karena lelah, tapi karena takut.
Evelyn tersenyum tipis. Rambutnya tergerai, pipinya mulai
pucat, tapi matanya tetap memandang lelakinya dengan keteduhan yang sulit
dijelaskan.
“John,” katanya, “aku suka melihat matamu begitu, sayup
penuh kasih, seperti cokelat hangat yang menghangatkanku ketika kuteguk
di malam saat aku pulang dari lelahnya pekerjaan.”
John menunduk. Ia menggenggam tangan Evelyn dengan kedua
tangannya—seolah jika ia memegang cukup kuat, ia bisa menahan dunia agar tidak
mengambilnya.
Di luar jendela, asap pabrik membungkus langit Digbeth.
Suara palu mesin terdengar samar. Kehidupan terus bergerak, bahkan ketika seseorang
berhenti.
Evelyn meninggal pada suatu pagi yang pelan. Tidak ada
teriakan. Tidak ada hujan deras dramatis. Hanya napas terakhir yang keluar
pelan seperti orang yang akhirnya bisa beristirahat. John duduk di sampingnya,
masih menggenggam tangannya, bahkan ketika sudah tidak ada hangat di sana.
Ia tidak menangis keras.
John Beckett tidak pernah begitu.
Tangisnya diam—seperti kaca yang retak dari dalam.
Hari pemakaman, langit Digbeth tetap kelabu seperti biasa.
Orang-orang bekerja seperti biasa. Hidup tidak berhenti untuk suatu
kehilangan—bahkan kehilangan sebesar dunia seseorang.
Di malam setelahnya, John berjalan menyusuri kanal. Angin
dingin menggigit wajah. Ia merasa kosong, seolah dadanya telah diambil sesuatu
dan diganti ruang kosong yang tidak bisa diisi.
Ia melihat poster sukarelawan tentara Inggris di dinding
bata yang lembap.
John menatap poster itu lama.
Keesokan harinya, di kantor perekrutan militer, seorang
petugas mencatat nama dan umur.
“Nama?”
“John Beckett.”
“Alasan mendaftar?”
Jhon mengangkat wajah. Tatapannya tenang, tapi kosong—kosong
dengan cara yang mengerikan.
“Tidak ada yang tersisa di sini untuk saya.”
Petugas berhenti menulis sejenak.
Tak ada lagi yang perlu dijelaskan.
Membawa luka yang tidak pernah sembuh.
Membawa rasa yang dikubur di Digbeth.
Comments
Post a Comment