Skip to main content

Featured

Idealisme tidak untuk digoreng (Gak Enak)

 Tan Malaka pernah bilang kalau idealisme adalah harta terakhir manusia. Waktu pertama kali dengar itu, aku langsung sok paham. Kupikir idealisme itu kayak celengan paling akhir yang disimpan manusia ketika hidupnya sudah habis dicopet keadaan. Ternyata bukan begitu. Atau mungkin begitu. Aku juga gak tahu. Soalnya hidupku banyak bercandanya daripada serius. Dulu aku pikir jadi orang idealis itu gampang. Tinggal bilang “aku berbeda”, terus pasang muka paling serius sedunia. Setelah dewasa, yang paling susah bukan mempertahankan idealismenya. Tapi yang paling susah itu bertahan   hidup sambil tetap punya idealisme. Kenyataannya, perut manusia lebih berisik daripada isi kepalanya. Orang lapar biasanya lebih sibuk cari nasi daripada mencari makna hidup. Dan itu gak salah. Aku pernah melihat banyak orang mengubur prinsipnya sendiri cuma supaya besok masih bisa bangun pagi tanpa utang. Ada yang dulu ngomong soal perjuangan, sekarang malah sibuk cari aman. Ada...

Tentang Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Peristiwa-peristiwa di masa lalu adalah batu-batu kecil di sepanjang jalan yang kulalui.
Beberapa terasa hangat di telapak kaki, membuatku lupa bahwa di bumi ini—yang keras dan tak berperasaan—apa pun bisa terjadi.
Ada satu kejadian, yang sampai sekarang tak bisa kuterjemahkan dengan logika. Ia seperti mimpi buruk yang menolak mati, bahkan setelah kubangunkan berkali-kali.
Ia membunuh sebagian pengharapanku, dan sisanya dibiarkan pincang berjalan sampai hari ini.

Kadang, yang mengganggu bukanlah peristiwanya, tapi kenangan yang menolak diam.

Dan aku berpikir, jika ada yang mengacau di kepala, bukankah kita berhak untuk mengeluarkannya?
Bukankah itu manusiawi—menangis, marah, atau menulis sesuatu sampai jari memerah?
Kita diciptakan dengan pikiran dan perasaan bukan untuk disimpan rapat-rapat seperti surat dosa.
Apakah itu berlebihan? Tidak. Yang berlebihan justru dunia yang memaksa kita untuk pura-pura kuat.

Dulu aku pernah bilang, jadi orang pelupa itu kadang anugerah.
Bayangkan bisa melupakan sesuatu tanpa perlu berlatih—betapa damainya hidup seperti itu.
Tapi tidak semua hal bisa lenyap hanya karena kita mau.
Ada kenangan yang menempel seperti noda di dalam raga, tak bisa dicuci, hanya bisa ditulisi dengan hal-hal baru agar tak terlalu terlihat.

Aku dulu juga pernah sok tahu:
Kupikir hidup adalah hak prerogatif manusia.
Kita yang menjalani, kita yang memutuskan, kita yang bertanggung jawab.
Tapi ternyata tidak.
Seseorang pernah menampar pikiranku dengan kalimat sederhana:

“Ada yang lebih berhak atas hidupmu. Dan itu bukan kamu.”

Dan di situ aku mengerti, manusia memang diberi kehendak, tapi tidak untuk semuanya.
Ada hal-hal di luar kendali yang memang tak perlu kita genggam.
Karena semakin digenggam, semakin sakit ketika lepas.
Kadang, menyerah bukan berarti kalah. Itu cuma cara lain untuk percaya.

Lalu aku berpikir, kalau hidup orang lain terlihat lebih sempurna, siapa yang menjamin itu benar?
Kesempurnaan hanyalah kata sifat yang dikurung oleh persepsi—
kita hanya melihat apa yang diizinkan untuk terlihat,
mendengar apa yang sempat diucapkan,
bukan luka yang mereka sembunyikan di balik senyum yang sudah terlatih.

Jika kita pikir kehidupan manusia lain terlihat lebih sempurna, apakah benar menurutnya sempurna?

Sesempurna apa pun hidup yang kita lihat, hidup tetaplah hidup. Ada sisi pahit dari hidup itu sendiri, yang tidak bisa dihilangkan. Mungkin hanya disembunyikan, barangkali.

Kalau kau tanya apakah hari ini aku sudah lebih baik,
aku akan bilang: tidak.
Tapi aku sudah belajar untuk tidak lagi melawan setiap gelombang kecil.
Aku biarkan air lewat, aku biarkan dunia bergerak sesuka hati.
Dan entah kenapa, ada tenang yang tumbuh di sela pasrah.

Comments

Popular Posts