Skip to main content

Featured

Mang Ijad

  “A, tahu tidak apa bedanya putus cinta sama patah hati?” “Gatau. Aku mah tahunya sama-sama sakit aja, begitu.” “Nya beda atuh!” “Emang apa bedanya?” “Putus cinta itu, dua orang yang memang akhirnya sepakat buat selesai. Misalnya aku punya pacar, terus aku atau dia udah nggak mau lanjut. Atau suami istri yang bercerai. Sakit sih, tapi kita sama-sama tahu alasannya. Sama-sama sadar kalau memang udah nggak bisa bersama lagi.” “Ohh… kalau patah hati?” “Kalau patah hati,. Beuh… aa tahu Mang Ijad? Yang istrinya meninggal beberapa tahun lalu?” “Tahu. Itu kan mamangnya teman aa.” “Nah, itu contoh patah hati. Mereka sama-sama nggak mau berpisah, tapi keadaan yang maksa. Sok lihat Mang Ijad ayeuna.” “Huss, jangan ngomong sembarangan.” “Tapi bener kan?” Aku mengangguk pelan. “Iya sih. Aa sering lihat dia duduk di teras sambil minum kopi. Kadang nyiram tanaman. Tapi tatapannya kosong.” “Nah itu a, berpisah karena keadaan kayaknya teh lebih menyakitkan gitu rasanya dibanding berp...

Tentang Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Peristiwa-peristiwa di masa lalu adalah batu-batu kecil di sepanjang jalan yang kulalui.
Beberapa terasa hangat di telapak kaki, membuatku lupa bahwa di bumi ini—yang keras dan tak berperasaan—apa pun bisa terjadi.
Ada satu kejadian, yang sampai sekarang tak bisa kuterjemahkan dengan logika. Ia seperti mimpi buruk yang menolak mati, bahkan setelah kubangunkan berkali-kali.
Ia membunuh sebagian pengharapanku, dan sisanya dibiarkan pincang berjalan sampai hari ini.

Kadang, yang mengganggu bukanlah peristiwanya, tapi kenangan yang menolak diam.

Dan aku berpikir, jika ada yang mengacau di kepala, bukankah kita berhak untuk mengeluarkannya?
Bukankah itu manusiawi—menangis, marah, atau menulis sesuatu sampai jari memerah?
Kita diciptakan dengan pikiran dan perasaan bukan untuk disimpan rapat-rapat seperti surat dosa.
Apakah itu berlebihan? Tidak. Yang berlebihan justru dunia yang memaksa kita untuk pura-pura kuat.

Dulu aku pernah bilang, jadi orang pelupa itu kadang anugerah.
Bayangkan bisa melupakan sesuatu tanpa perlu berlatih—betapa damainya hidup seperti itu.
Tapi tidak semua hal bisa lenyap hanya karena kita mau.
Ada kenangan yang menempel seperti noda di dalam raga, tak bisa dicuci, hanya bisa ditulisi dengan hal-hal baru agar tak terlalu terlihat.

Aku dulu juga pernah sok tahu:
Kupikir hidup adalah hak prerogatif manusia.
Kita yang menjalani, kita yang memutuskan, kita yang bertanggung jawab.
Tapi ternyata tidak.
Seseorang pernah menampar pikiranku dengan kalimat sederhana:

“Ada yang lebih berhak atas hidupmu. Dan itu bukan kamu.”

Dan di situ aku mengerti, manusia memang diberi kehendak, tapi tidak untuk semuanya.
Ada hal-hal di luar kendali yang memang tak perlu kita genggam.
Karena semakin digenggam, semakin sakit ketika lepas.
Kadang, menyerah bukan berarti kalah. Itu cuma cara lain untuk percaya.

Lalu aku berpikir, kalau hidup orang lain terlihat lebih sempurna, siapa yang menjamin itu benar?
Kesempurnaan hanyalah kata sifat yang dikurung oleh persepsi
kita hanya melihat apa yang diizinkan untuk terlihat,
mendengar apa yang sempat diucapkan,
bukan luka yang mereka sembunyikan di balik senyum yang sudah terlatih.

Jika kita pikir kehidupan manusia lain terlihat lebih sempurna, apakah benar menurutnya sempurna?

Sesempurna apa pun hidup yang kita lihat, hidup tetaplah hidup. Ada sisi pahit dari hidup itu sendiri, yang tidak bisa dihilangkan. Mungkin hanya disembunyikan, barangkali.

Kalau kau tanya apakah hari ini aku sudah lebih baik,
aku akan bilang: tidak.
Tapi aku sudah belajar untuk tidak lagi melawan setiap gelombang kecil.
Aku biarkan air lewat, aku biarkan dunia bergerak sesuka hati.
Dan entah kenapa, ada tenang yang tumbuh di sela pasrah.

Comments

Popular Posts