Skip to main content

Featured

Langit Digbeth

  Digbeth, Birmingham — Sekitar Tahun 1913 Kabut tipis bercampur asap pabrik menggantung rendah di udara pagi. Jalanan di Digbeth terasa lembap, penuh noda oli yang menghitam di sela paving batu yang tak rata. Dari jauh terdengar suara peluit panjang—sirene pabrik yang menandai pergantian shift. Suaranya menggema di antara bangunan bata merah yang menjulang, fasadnya dipenuhi jelaga hitam yang sudah seperti bagian dari warna asli dinding. John Beckett , seorang yatim piatu yang ada tatapan hangat di matanya. Dia tinggal tidak jauh dari jalur kanal, di sebuah rumah bata kecil yang catnya mulai pudar oleh asap pabrik. Di sana pula tinggal Evelyn Harper, kekasihnya. Evelyn pernah bekerja di pabrik tekstil di Highgate , namun belakangan tubuhnya sering melemah. Batuknya tidak lagi sekadar batuk. Di malam hari, ketika Digbeth hanya diterangi cahaya lampu gas yang sayup, suara batuknya terdengar seperti sesuatu yang menahan hidupnya agar tidak jatuh. John sering duduk di samping r...

Bagian Dua : Rumah yang Tak Pernah Ditinggali

Halo,

Pagi itu aku berjalan di jalan yang sama—jalan yang sudah tahu langkahku lebih baik daripada aku tahu arah pulang.
Sampai akhirnya aku berhenti di depan sebuah rumah yang entah kenapa terasa begitu akrab, seperti déjà vu yang tidak sopan.

Lalu muncullah seseorang, pemilik rumah itu.
Ia menawarkan teh. Sekadar teh, katanya—hangat, ringan, tidak akan lama.
Aku menolak dengan sopan, tapi ia memaksa dengan lembut.
Dan siapa yang bisa menolak kehangatan yang datang dari mata sepasang kesepian?

Aku melangkah masuk.
Rumah itu indah, rapi, dan dingin seperti doa yang tak dikabulkan.
Wanginya seperti masa lalu yang dibungkus baru.
Namun ada yang aneh —
tidak ada suara sendok beradu, tidak ada langkah, tidak ada kehidupan.
Rumah itu bersih karena terlalu lama kosong.
Dan aku sadar, pemilik rumah itu hanya ingin ditemani — oleh siapa pun, bahkan oleh orang seasing aku.

Dari teh, ia memberiku makanan.
Dari makanan, ia memberiku cerita.
Dari cerita, ia menukar segalanya — waktu, perhatian, bahkan aku.
Dan aku bodoh, aku menerimanya semua.
Sampai aku tak bisa lagi pergi, bukan karena dikurung, tapi karena terikat.
Bagaimana mungkin aku meninggalkan seseorang yang sudah memberi seluruh dirinya untukku, meski separuhnya gelap?

Lalu dia mulai berandai-andai.
Tentang masa depan, tentang rumah ini yang katanya akan jadi milik kita.
Tentang halaman yang akan dipenuhi tawa, tentang senja yang akan kita lihat dari jendela yang sama.
Ia bicara tentang “nanti” dengan keyakinan yang membuatku lupa bahwa dunia sering tidak menepati janji.
Dan aku, seperti orang mabuk, percaya.
Kami sepakat untuk bertahan. Apa pun yang terjadi.

Tapi suatu hari, dia berkata ingin keluar sebentar.
“Sebentar saja,” katanya.

Lalu hari menjadi minggu.
Minggu menjadi bulan.
Bulan menjadi tahun.

Dan rumah itu tetap diam.
Aku mencoba membuka pintu — terkunci.
Dia mengunciku dari luar.
Dengan tenang, tanpa pesan, tanpa alasan.

Kini aku terjebak di rumah yang dulu penuh janji, kini hanya gema dari apa yang pernah diucapkan.
Setiap sudut masih menyimpan sisa dirinya — di cangkir teh yang kering, di kursi yang miring, di udara yang dingin tapi masih wangi.
Aku menunggu. Bertahun-tahun.
Sampai akhirnya aku tak tahu lagi apa yang kucari: dia, atau diriku sendiri yang dulu datang dengan niat cuma mampir.

Dia pergi, dan aku tertinggal di dalam pengharapan yang dia bangun.
Kini aku adalah penjaga rumah yang tak pernah ditinggali,
hidup tapi tidak benar-benar hidup,
menunggu pintu yang takkan pernah terbuka lagi.

Comments

Popular Posts