Skip to main content

Featured

Idealisme tidak untuk digoreng (Gak Enak)

 Tan Malaka pernah bilang kalau idealisme adalah harta terakhir manusia. Waktu pertama kali dengar itu, aku langsung sok paham. Kupikir idealisme itu kayak celengan paling akhir yang disimpan manusia ketika hidupnya sudah habis dicopet keadaan. Ternyata bukan begitu. Atau mungkin begitu. Aku juga gak tahu. Soalnya hidupku banyak bercandanya daripada serius. Dulu aku pikir jadi orang idealis itu gampang. Tinggal bilang “aku berbeda”, terus pasang muka paling serius sedunia. Setelah dewasa, yang paling susah bukan mempertahankan idealismenya. Tapi yang paling susah itu bertahan   hidup sambil tetap punya idealisme. Kenyataannya, perut manusia lebih berisik daripada isi kepalanya. Orang lapar biasanya lebih sibuk cari nasi daripada mencari makna hidup. Dan itu gak salah. Aku pernah melihat banyak orang mengubur prinsipnya sendiri cuma supaya besok masih bisa bangun pagi tanpa utang. Ada yang dulu ngomong soal perjuangan, sekarang malah sibuk cari aman. Ada...

Bagian Satu : Tentang Rumah yang Runtuh oleh Pengharapan


Apalah arti pengharapan,
jika yang diharap telah mengingkari ucapannya?
Apalah arti keutuhan,
jika rumah telah kehilangan separuh atapnya?
Dan apalah arti percakapan,
jika harmoni di antara dua hati telah berubah jadi gema kosong?

Kau dulu begitu mempesona —
sampai setiap kata yang meluncur dari bibirmu menjadi doa yang menabrak langit harapanku.
Kau bicara tentang rumah bernama Kita,
dan aku, si pengelana yang lapar akan arti, menaruh seluruh keyakinan di pondasinya.
Kau ubah langitku yang kusam jadi jingga,
kau kembalikan warna yang dulu pernah mati di mataku.

Waktu itu, semesta kita bertabrakan.
Kau, anak kota yang tumbuh di gedung-gedung bercermin cahaya.
Aku, anak lereng gunung, yang hidup di antara bau tanah, suara cangkul, dan lapar yang tak hanya soal perut.
Aku lapar akan engkau.
Akan caramu berbicara tentang masa depan seolah waktu bisa kau kendalikan.
Dan aku, dungu tapi bahagia, percaya.

Kita jadi rumah —
bukan dari batu, tapi dari janji-janji yang kita susun dengan tangan gemetar.
Di dalamnya kita simpan mimpi besar, yang katanya akan kita rayakan bersama.
Album kecil berisi tawa, perjalanan, air mata, juga hal-hal konyol yang kita pikir akan abadi.
Rak itu dulu penuh, tapi sekarang kosong.
Yang tersisa hanya debu dan serpihan kata yang tak pernah selesai diucapkan.

Lalu Bumi —
entah karena iri, entah karena lelah —
mengguncang segalanya.
Ia porak-porandakan rumah kita,
menghancurkan setiap bata yang sempat kita percayai.
Dan kau pergi,
menghilang seperti kabut yang menolak kembali setelah fajar.

Yang tertinggal hanya reruntuhan dan aku,
menatap harapan yang tak lagi punya atap.
Aku ingin berteriak, tapi yang keluar cuma napas pendek dan pertanyaan-pertanyaan busuk:

Apa Bumi menjatuhkan batu di kepalamu sampai kau lupa segalanya?
Kau kemanakan percakapan kita yang diiringi hujan itu?
Kau kubur di mana kata-kata manismu yang dulu membuatku percaya bahwa cinta bisa disembuhkan oleh cinta?
Kau kemanakan aku — yang dulu kau rangkul seperti dunia hanya milik berdua?

Aku tidak tahu siapa yang menghasutmu,
siapa yang menanamkan racun di telingamu,
sampai segala rencana yang kita rawat dari benih tiba-tiba layu.
Apa kau lupa,
bahwa dulu aku yang kau sebut rumah?
Bahwa di antara kita, ada sejarah kecil yang bahkan waktu tak berani menyentuh?

Kini aku mengemis pada keheningan,
menyembah kenangan seperti orang dungu di depan altar yang sudah retak.
Kau menatapku dengan kebencian yang tak kumengerti asalnya.
Dan aku—seperti biasa—masih mencintaimu dalam diam yang menyakitkan.

Karena barangkali, begitulah takdirku:
menjadi puing dari rumah yang pernah kau bangun,
dan mati perlahan di dalamnya.

Comments

Popular Posts