Skip to main content

Featured

Mang Ijad

  “A, tahu tidak apa bedanya putus cinta sama patah hati?” “Gatau. Aku mah tahunya sama-sama sakit aja, begitu.” “Nya beda atuh!” “Emang apa bedanya?” “Putus cinta itu, dua orang yang memang akhirnya sepakat buat selesai. Misalnya aku punya pacar, terus aku atau dia udah nggak mau lanjut. Atau suami istri yang bercerai. Sakit sih, tapi kita sama-sama tahu alasannya. Sama-sama sadar kalau memang udah nggak bisa bersama lagi.” “Ohh… kalau patah hati?” “Kalau patah hati,. Beuh… aa tahu Mang Ijad? Yang istrinya meninggal beberapa tahun lalu?” “Tahu. Itu kan mamangnya teman aa.” “Nah, itu contoh patah hati. Mereka sama-sama nggak mau berpisah, tapi keadaan yang maksa. Sok lihat Mang Ijad ayeuna.” “Huss, jangan ngomong sembarangan.” “Tapi bener kan?” Aku mengangguk pelan. “Iya sih. Aa sering lihat dia duduk di teras sambil minum kopi. Kadang nyiram tanaman. Tapi tatapannya kosong.” “Nah itu a, berpisah karena keadaan kayaknya teh lebih menyakitkan gitu rasanya dibanding berp...

Idealisme tidak untuk digoreng (Gak Enak)

 Tan Malaka pernah bilang kalau idealisme adalah harta terakhir manusia.

Waktu pertama kali dengar itu, aku langsung sok paham.

Kupikir idealisme itu kayak celengan paling akhir yang disimpan manusia ketika hidupnya sudah habis dicopet keadaan.

Ternyata bukan begitu.

Atau mungkin begitu.

Aku juga gak tahu.

Soalnya hidupku banyak bercandanya daripada serius.

Dulu aku pikir jadi orang idealis itu gampang. Tinggal bilang “aku berbeda”, terus pasang muka paling serius sedunia.

Setelah dewasa, yang paling susah bukan mempertahankan idealismenya. Tapi yang paling susah itu bertahan  hidup sambil tetap punya idealisme.

Kenyataannya, perut manusia lebih berisik daripada isi kepalanya. Orang lapar biasanya lebih sibuk cari nasi daripada mencari makna hidup.

Dan itu gak salah.

Aku pernah melihat banyak orang mengubur prinsipnya sendiri cuma supaya besok masih bisa bangun pagi tanpa utang. Ada yang dulu ngomong soal perjuangan, sekarang malah sibuk cari aman.

Ada yang dulu paling keras menolak keadaan, sekarang malah duduk paling depan menikmati keadaan. Tapi mungkin memang begitu cara hidup bekerja.

Ia pelan-pelan ngajarin manusia bahwa bertahan hidup sering kali lebih penting daripada menjadi benar.

Makanya sekarang aku mulai percaya kalau idealisme itu barang mahal. Gak semua orang mampu buat beli.

Karena untuk mempertahankan idealisme, kadang orang harus punya kemewahan tertentu: perut kenyang, isi dompet Soekarno-Hatta, dan hidup yang gak ditampar kenyataan.

Sedangkan sebagian dari kita bahkan masih ngos-ngosan sekadar supaya besok tetap bisa hidup.

Jadi kalau hari ini ada orang yang berubah menjadi pragmatis, aku gak selalu bisa menyalahkannya.

Bisa jadi dia cuma lelah.

Bisa jadi hidup terlalu sering menamparnya.

Atau bisa jadi dunia memang lebih ramah kepada orang-orang yang punya kuasa.

Orang biasa ngomong sesuatu yang pintar, paling dianggap halu.

Tapi kalau orang yang punya jabatan, uang, atau nama besar ngomong hal yang sama, tiba-tiba semua orang manggut-manggut kayak nemu wahyu.

Mungkin karena itu banyak orang akhirnya milih diam.

Bukan karena mereka gak punya pikiran, tapi karena mereka sadar kalau suara dari mereka jarang didengerin.

Dunia memang suka begitu.

Dia gak peduli dengan apa yang kau pikirkan.

Dia lebih peduli siapa dirimu.

 

Saat kau gak punya apa-apa, ide-idemu itu cuma sampah.

Saat kau punya segalanya, orang-orang bakal mungut sampah itu

Comments

Popular Posts