Idealisme tidak untuk digoreng (Gak Enak)
Tan Malaka pernah bilang kalau idealisme adalah harta terakhir manusia.
Waktu pertama kali dengar itu, aku langsung sok paham.
Kupikir idealisme itu kayak celengan paling akhir yang
disimpan manusia ketika hidupnya sudah habis dicopet keadaan.
Ternyata bukan begitu.
Atau mungkin begitu.
Aku juga gak tahu.
Soalnya hidupku banyak bercandanya daripada serius.
Dulu aku pikir jadi orang idealis itu gampang. Tinggal
bilang “aku berbeda”, terus pasang muka paling serius sedunia.
Setelah dewasa, yang paling susah bukan mempertahankan
idealismenya. Tapi yang paling susah itu bertahan hidup sambil tetap punya idealisme.
Kenyataannya, perut manusia lebih berisik daripada isi
kepalanya. Orang lapar biasanya lebih sibuk cari nasi daripada mencari makna
hidup.
Dan itu gak salah.
Aku pernah melihat banyak orang mengubur prinsipnya sendiri
cuma supaya besok masih bisa bangun pagi tanpa utang. Ada yang dulu ngomong
soal perjuangan, sekarang malah sibuk cari aman.
Ada yang dulu paling keras menolak keadaan, sekarang malah
duduk paling depan menikmati keadaan. Tapi mungkin memang begitu cara hidup
bekerja.
Ia pelan-pelan ngajarin manusia bahwa bertahan hidup sering
kali lebih penting daripada menjadi benar.
Makanya sekarang aku mulai percaya kalau idealisme itu
barang mahal. Gak semua orang mampu buat beli.
Karena untuk mempertahankan idealisme, kadang orang harus
punya kemewahan tertentu: perut kenyang, isi dompet Soekarno-Hatta, dan hidup
yang gak ditampar kenyataan.
Sedangkan sebagian dari kita bahkan masih ngos-ngosan
sekadar supaya besok tetap bisa hidup.
Jadi kalau hari ini ada orang yang berubah menjadi
pragmatis, aku gak selalu bisa menyalahkannya.
Bisa jadi dia cuma lelah.
Bisa jadi hidup terlalu sering menamparnya.
Atau bisa jadi dunia memang lebih ramah kepada orang-orang
yang punya kuasa.
Orang biasa ngomong sesuatu yang pintar, paling dianggap
halu.
Tapi kalau orang yang punya jabatan, uang, atau nama besar
ngomong hal yang sama, tiba-tiba semua orang manggut-manggut kayak nemu wahyu.
Mungkin karena itu banyak orang akhirnya milih diam.
Bukan karena mereka gak punya pikiran, tapi karena mereka
sadar kalau suara dari mereka jarang didengerin.
Dunia memang suka begitu.
Dia gak peduli dengan apa yang kau pikirkan.
Dia lebih peduli siapa dirimu.
Saat kau gak punya apa-apa, ide-idemu itu cuma sampah.
Saat kau punya segalanya, orang-orang bakal mungut sampah
itu
Comments
Post a Comment